Gerai Inspirasi

ekonomika politika romantika

LightBlog
Responsive Ads Here

Wednesday, November 17, 2021

Seandainya Abdurrahman bin Auf menjadi Khalifah

 

Sumber Gambar: Koleksi Pribadi


Niatnya mau menuliskan di laptop tapi ya apa boleh buat. Tulisan ini sebenarnya singkat saja, tapi saya rasa ini menarik untuk dibicarakan. Karena dalam satu dan lain hal, semakin maju peradaban manusia, sesuatu seperti "tanggung jawab" entah dipandang seberapa penting oleh manusia kebanyakan.


Cerita ini diawali dengan Khalifah Utsman bin Affan yang mulai mengalami sakit. Disebutkan seorang sahabat menyarankan beliau untuk meninggalkan instruksi, semacam wasiat agar ummat muslim bisa memilih yang terbaik untuk jadi khalifah sepeninggal beliau. Disebutkan si sahabat melihat nama seseorang yang Khalifah tulis, dan bergegas berlari, menemui seseorang yang namanya tertulis dalam wasiat sang khalifah.

 

"Kabar gembira! Kabar gembira!" Katanya setelah memasuki rumah orang yang dimaksud.

Tuan rumah bertanya-tanya, bingung "Apa yang terjadi?" Tanya nya kepada sahabat yang masuk ke rumahnya.

"Berbahagialah ya Abdurrahman bi Auf! Wallahi aku menyaksikan nama mu amirul mukminin tulis dalam wasiat nya sebagai penerus beliau!" Kata si sahabat, bersemangat.



Disebutkan Abdurrahman bin Auf yang pada saat gemetar. Saking gemetar nya beliau si sahabat sampai mau bertanya, kenapa? Apakah beliau gemetar saking bahagianya?

 

Diluar ekspektasi manusia siapapun, sahabat mulia Abdurrahman bin Auf berteriak lantang:

"Wallahi jika memang benar-benar namaku tertulis dalam surat wasiat Khalifah, Maka matikan lah aku Ya Allah, sebelum Engkau mematikan amirul mukminin!"

 

Pada akhir hidup nya, benar Abdurrahman bin Auf meninggal terlebih dahulu. Sampai detik ini pun tidak ada yang tahu apa isi surat wasiat Khalifah Utsman bin Affan. Hanya Allah yang tahu, hanya sikap luar biasa Abdurrahman bin Auf saat mendapat kabar menjadi namanya "tertulis" dalam surat wasiat Khalifah.

 

Tapi saya entah kenapa meyakini, manusia modern akan bertanya.. "Kenapa?"

 



BAGAIMANA JIKA ABDURRAHMAN BIN AUF MENJADI KHALIFAH?

 

Tidak tahu. Haha.
Dimana mana berandai-andai tidak baik, pun karena beliau sekalipun meninggal sebelum Khalifah Utsman sempat berkata apa-apa mengenai siapa yang beliau sarankan menjadi penerus beliau. Tetapi jika melihat hobi beliau sebagai seseorang, yang mana manfaat harta nya dirasakan seluruh masyarakat Madinah, tetap saja, saya tidak tahu. Karena memang inilah kenyataannya, hanya Allah yang tahu.

 

Tetapi mungkin orang modern akan berkata:
"Kenapa tidak memperbesar manfaat?"
"Kenapa tidak menjadi pemimpin?"
"Kenapa tidak menambah amal?"
"Kenapa tidak memanfaatkan kekuasaan dengan cara yang baik?"
Ini itu, ini itu. Berbagai alasan. Alasan demi diri sendiri, alasan memperbesar manfaat, alasan yang bernafas "syar'i", hingga "duniawi".

 

Sangat mungkin siapapun yang menjadi manusia modern, akan terbesit pemikiran demikian. Karena kenyataan nya kita bisa saksikan dimana-mana, manusia modern kalau belum menjadi penguasa dunia sepertinya kok belum selesai. Indikator-indokator nya cenderung makin aneh, karena seolah manusia modern lupa bahwa segala sesuatu ada beban-nya, ada tanggung jawab-nya. Lebih luar biasa lagi, kadang manusia modern Merasa bahwa yang mereka miliki, mereka kuasai, dan kadang jadi "cara mereka mencari uang/mendapatkan sesuatu" adalah jalan ter-benar. Semua manusia harus mengikuti jalan mereka, etc, etc.


Lantas yang menjadi alasan, kenapa seorang Abdurrahman bin Auf, dengan harta melimpah, ilmu langsung dari Rasulullah, begitu takutnya saat mendengar kabar semacam itu, bahkan memohon pada Allah agar "dimatikan" jika kabar tersebut adalah nyata. Beliau yang hati-hati menjaga harta-nya, beliau yang memberikan banyak manfaat bagi ummat, kenapa sampai sebegitunya saat akan memperoleh "posisi" sebagai seorang pemimpin.


Ini yang menarik untuk dibicarakan.




ARTI TANGGUNG JAWAB



Ngga ada kok sebenarnya, manusia yang menyalahkan kalau kita punya aspirasi, punya cita cita. Ingin ini, ingin itu, ngga ada masalah. Allah juga menganjurkan agar kita menjadi versi terbaik dari diri kita. Ihsan, begitu kalau dalam islam konsep nya. Melakukan sesuatu seolah-olah kita melihat Allah, jika tidak mampu, sesungguhnya Allah senantiasa melihat kita.


Maka harus sebenarnya, diri ini menjadi diri terbaik. Kenapa? Karena ya surga itu tempat terbaik. Rasulullah SAW juga memberikan keteladanan terbaik. Dan seterusnya.


Tetapi ini yang mungkin lupa untuk dilihat orang modern. Usaha Rasulullah SAW memberikan keteladanan terbaik dan menyampaikan risalah terbaik, merupakan tanggung jawab yang besar. Beliau korbankan banyak hal, termasuk nyawa beliau agar manusia bisa Mengetahui sebuah risalah yang menjadi penyempurna risalah-risalah sebelumnya. Beliau sangat paham dengan tanggung jawab itu, Beliau didik keluarga nya agar memahami tanggung jawab tersebut. Hingga lahirlah seorang wanita patriot, luar biasa, yang berkata pada suaminya "Jika kelak aku sudah mati, dan usaha dakwah mu terhalang sebuah jurang. Pergilah ke kuburan ku! Ambil tulang belulang ku, dan jadikan dari nya jembatan, sehingga kau bis melewati jurang itu!".


Inilah arti dari sebuah tanggung jawab. Usaha yang dilakukan maksimal demi mewujudkan apa yang sudah menjadi cita sendiri dan cita bersama. Karena ketika sudah berani bercita-cita, akan ada konsekuensi yang harus kita jalani. Inilah kenapa ada konsep yang disebut tanggung jawab. Kita sudah komitmen kerja di sebuah perusahaan, tanggung jawab kita ya melaksanakan tupoksi, aturan dan ketentuan yang berlaku. Kalau sudah menikah berarti bertanggungjawab memenuhi hak istri, memenuhi kebutuhan keluarga, pun juga mendidik anak.


Karena judulnya tanggung jawab, jelas hal ini bukan hal yang mudah. Terikat kontrak dengan perusahaan berarti mau gelap mau terang, mau mood Jelek atau bagus, perusahaan tetap akan meminta kita perform. Begitu juga dalam membina keluarga, sangat banyak proses "ngalah" dan harus "saling memahami", sangat sulit rasanya jika berkeluarga tanpa siap makan ati.



Apalagi jika berbicara tanggung jawab saat seorang individu harus menjadi pemimpin orang banyak. Amanah yang dipikul manusia, sebagai Wali Allah di muka bumi sempat ditawarkan kepada gunung, gunung runtuh sedemikian rupa. Maka sangat bisa dipahami kenapa Abdurrahman bin Auf sangat hati-hati soal ini.

 

Hati-hati disini bukan berarti pengecut. Yang dihadapi Abdurrahman bi Auf saat itu adalah kondisi ideal, sangat disukai manusia modern. Bayangkan saja misal seorang pemimpin ormas nasional, mengisyaratkan Anda jadi penerusnya. Jangankan begini, baru iseng-iseng pakai seragam "Ala militer" saja sekelompok oknum mahasiswa tega membunuh sesama mahasiswa dalam kedok "diklat organisasi". Disinilah maksud kehati-hatian beliau, hati manusia siapa yang tahu? Sangat rawan kiranya setelah beliau mendapat kabar bahwa dalam wasiat Khalifah Utsman nama beliau disebut sebagai calon Khalifah, nafsu memainkan peran. Menjadi jumawa, bisa jadi, menjadi agak angkuh, mungkin, tetapi dalam hemat penulis, terganggu nya keikhlasan sudah cukup membuat Abdurrahman bin Auf sampai bereaksi sedemikian rupa saat mendengar kabar tersebut.


Sesuatu yang mungkin sudah sulit diamalkan oleh manusia modern. Bahkan mungkin yang terjadi adalah sebaliknya. Lantas kemana rasa tanggung jawab yang menjadi tolak ukur rational perilaku hati-hati?.



SOLUSI MUJARAB? NGGA JUGA.

 

Pernah mendengar istilah super-team bukan superman? Istilah ini sangat umum digunakan untuk menggambarkan bahwa cara untuk mencapai sebuah tujuan yang besar, jauh, dan sustain, dibutuhkan lebih dari sekedar seorang manusia super, serba bisa apa saja. Tetapi sebuah ikatan antar manusia dengan visi yang sama, dimana mereka saling melengkapi satu sama lain.

Konon katanya istilah semacam ini relevan dan umum ditemukan pada Era modern. Salah seorang rekan saya yang lulusan ITB bilang, jaman sekarang orang seperti Alfa Edison, atau Newton sangat kecil peluang nya untuk muncul. Karena ilmu pengetahuan akan terus berkembang jika didasarkan pada kolaborasi. Menarik sekali, sangat relevan, tetapi ketika "sedikit saja" kita melihat ke ruang interaksi manusia modern, yang semacam ini seolah hanya jadi Guyonan saja, seolah manusia tidak jadi ber evolusi, mungkin manusia malah ber devolusi, mundur.


Seberapa sering Anda bertemu dengan orang yang meng klaim punya solusi mujarab, tunggal dan ampuh jika ingin cepat kaya? Dengan cara promosi bertingkat bak menara kartu, produk yang wallahu 'alam nilai pasar aslinya berapa, dan ada seorang yang Pamer harta ini dan itu konon adalah hasil jualan produk antar berantah itu?

Seberapa sering juga Anda bertemu dengan manusia yang asik saja mengkritik. Opo wae di kritik. Mau guru nya, presiden nya, teman nya, semua. Seolah dia yang Maha benar, yang mana langkah-langkah yang dia ambil adalah paling tepat. Ceplos sana ceplos sini seolah paling berilmu karena meng klaim ilmu nya sampai pada Sumber aslinya. Soal ganja? Mungkin dia meng klaim pernah ketemu dengan mendiang Bob Marley. Soal kasih sayang anak dibawah umur? Mungkin dia ngaku ngaku kalau dia muridnya Jeffrey Epstein.

Banyak, sangat banyak kita tempi persona yang seolah menawarkan semua solusi. Seolah dialah the beacon of light, yang paling benar. Sampai sering mudah sekali kayaknya melontarkan kata bodoh dan tolol kepada orang-orang yang mungkin berbeda pemikiran dengan nya.


Sekarang pertanyaan sederhananya, apa bisa muncul sebuah kolaborasi produktif jika kita berurusan dengan orang semacam ini?


Jelas tidak. Sederhana. Karena sejatinya tidak ada obat segala penyakit, setiap obat perlu pendamping, perlu pakem, bahkan perlu pantangan. Silahkan saja Anda makan habbatussauda sampai muntah-muntah, cuman ketika Gaya hidup Anda masih sedentary, makan masih makan makanan tidak sehat, tidak olahraga, ya sama saja dengan Anda mempercepat si habbatussauda bertemu dengan hal yang tidak bisa dia sembuhkan. Kematian.

 

Prinsip dasar ini yang kemudian menjadi Jawaban, kenapa dakwah para sahabat bisa bertahan sampai 14 Abad lebih, dengan distorsi minim, sedangkan organisasi, perusahaan dan tokoh masyarakat modern jenjang "bleger" nya sangat singkat sekali. Para sahabat memahami adanya peran yang saling melengkapi ini dan sepenuh hati melaksanakannya.



Mereka mereka dengan harta berlebih tidak perlu diajak untuk berdonasi melalui program sosial tertentu. Merekalah initiator program sosial itu, membantu masyarakat bahkan dalam kasus Abdurrahman bin Auf tidak ada satupun masyarakat Medinah yang tidak pernah mendapatkan kebaikan, nikmat dari hartanya. Sungguh sebuah pencapaian luar biasa. Ngga perlu pakai proposal, apalagi dengan istilah proposal sponsorship.


Agak lain ya dengan zaman sekarang. Harta itu dihabiskan untuk mereka yang disukai saja. Lebih lucu lagi dengan etok-etok memberikan bantuan, padahal ujung-ujungnya dijadikan "romusha" dengan gelar nama aneh-aneh. Ada yang namanya konsultan lah, ada yang namanya general manajer lah, padahal ujung-ujung nya? Ya cuman sales saja. Siapa yang paling kaya? Ya si investor yang etok-etok mau bantu tadi.


Lucu sekali, dan semakin lucu ketika sales-sales bergelar aneh-aneh tadi seolah menawarkan sebuah obat mujarab dan menjadi orang-orang Maha benar tadi. Waduh kalau mereka dapat scenario semacam Abdurrahman bin Auf mungkin ego nya sudah sampai ke Pluto.


Maka entah kenapa saya sedikit bersyukur Allah menakdirkan Abdurrahman bin Auf tidak menjadi Khalifah. Karena ini menunjukkan bahwa sejatinya, tidak peduli sekuat apapun manusia, dia tetaplah seorang hamba. Ada keterbatasan disana, ada kelemahan disana, ada sebuah pengorbanan tidak sedikit untuk mendapatkan sebuah hidayah.


Abdurrahman bin Auf yang namanya sering dipakai tanpa izin untuk mempromosikan bisnis yang merendahkan martabat manusia dan menjelekkan manusia lain, pernah mengorbankan seluruh harta nya saat dia akan hijrah, mengikuti perintah Rasulullah SAW ke Medinah. Saking banyak nya yang ditinggalkan sampai Berliur orang musyrikin quraisy saat menjarah rumahnya. Sekarang, mana ada yang punya mindset demikian di zaman modern? Nope, harga diri dan martabat itu diukur dengan banyak nya angka 0 di rekening, berapa banyak rumah, aset, mobil, lalalalala.


Abdurrahman bin Auf yang sering dijadikan ikon motivasi untuk terus menjadi kaya, kaya dan kaya, sangat ringan tangan membantu orang lain. Aset nya adalah aset ummat, orang tidak perlu merendahkan diri saat akan meminta bantuan. Sekarang berapa banyak manusia modern yang asset assetnya dijadikan wakaf, diberikan untuk kebaikan orang banyak? Saya yakin yang beneran menjadi Abdurrahman bin Auf sudah melakukan hal tersebut, tetapi manusia manusia Maha benar yang suka jualan obat mujarab yang tadi saya ceritakan? Wallahu 'alam, hanya Allah yang tahu.

Cuman sederhana nya, kalau masih sibuk cerita saya dapat duit segini dari sini, situ dan sana, ya mungkin artinya, duitnya masih belum mengalir deres. Biasanya sih gitu.


Wallahu 'alam sekali lagi.
Manusia hidup dan berkembang dari sebuah proses belajar. Pada akhirnya manusia pun diukur dari bagaimana dia bisa memperbaiki kesalahan, dan terus mengembangkan kebaikan dan manfaat. Maka hematnya, kalau tidak bisa mengembangkan manfaat, jangan kurangi manfaat kecil kita, dengan seolah olah hadir memberikan "hidayah". Padahal yang sejatinya dilakukan adalah sebuah gambaran menjijikan tentang keangkuhan dan kesombongan.


Wallahu 'alam. 




Untuk tulisan lain, silahkan kunjungi pranala dibawah ini: 

Mampir di Kompasiana
follow me on insta @Azzam_Abdul4 
Thanks for your support!

Follow dan Komen untuk artikel-artikel menarik lainya


No comments:

Post a Comment