Gerai Inspirasi

ekonomika politika romantika

LightBlog
Responsive Ads Here

Saturday, November 20, 2021

Yang Ditanya Tidak Lebih Tahu dari Yang Bertanya


 

Sumber Gambar: https://akuratnews.com/jangan-berharap-lebih-pada-snake-eyes-gi-joe-origins/


“Yang Ditanya Tidak Lebih Tahu dari Yang Bertanya”

Oleh: Muhammad Abdullah ‘Azzam, M.M.

 

 

Saya sendiri sebenarnya tidak ada rencana membuat tulisan ini, tapi karena kesalahan saya membaca tanggal sebuah undangan, akhirnya saya punya waktu lebih kurang 2 Jam untuk dihabiskan. Setelah mampir ke agen travel, saya cek area sekitar, ada warung kopi disana. Sembari menikmati AC dan menunggu, biar ngga kelihatan alien banget saya buka sudah ini laptop. Yakali seorang laki-laki dewasa nongkrong di warung kopi terus main Genshin Impact berjam-jam. Ngga patut bro,

 

Judul ini saya ambil dari redaksi hadits kedua Hadits Arba’in an Nawawi, tentu dengan penyesuaian. Konteks dalam hadits itu pun sebenarnya “jauh” dari kata-kata tidak tahu. Karena dalam hadits itu, yang bercakap adalah sesosok malaikat berwujud manusia, Jibril AS, dengan Nabi Muhammad SAW, nabi akhir zaman yang meyempurnakan risalah tauhid yang dibawa sebelumnya. Tetapi begitulah luar biasanya Allah SWT, hanya Allah SWT yang maha mengetahui, manusia mah cumin tau sedikit saja.

 

Dalam kisah yang dijabarkan dalam hadits masyhur ini, suatu Ketika dalam majelis Rasulullah hadir seorang laki-laki. Dia tidak dikenali oleh para sahabat di Madinah, tetapi tidak kelihatan dia orang yang habis menempuh perjalanan jauh. Saya saja yang baru naik grab dari rumah ke lokasi acara, lalu lanjut ke agen travel, wajah saya sudah lusuh sedemikian rupa. Hla zaman dulu belum ada Sigra Hitam ber-AC pak! Bisa dibayangkan orang zaman dahulu selusuh apa kalau harus menempuh perjalanan jauh.

 

Orang tidak dikenal ini langsung menghadap Rasulullah SAW, bertanya hal seperti Iman, yang dijawab dengan rukun iman yang enam. Iman kepada Allah, Malaikat, Kitab, Rasul, Hari Akhir, Qodho dan Qodar. Ditanya tentang islam, dan Rasulullah SAW jawab dengan rukun islam yang lima. Syahadat, Sholat, Puasa, Zakat dan Haji. Ditanya pula tentang apa itu Ihsan yang Rasulullah SAW jawab dengan jelas, melakukan sesuatu seolah-olah sedang melihat Allah SWT, pun kalau tidak mampu ketahuilah Allah SWT selalu melihat kita.

 

Namun ada sebuah pertanyaan yang dilontarkan oleh si penanya, yang seperti saya jelaskan, si penanya itu sejatinya adalah Jibril AS. Jilbril AS bertanya, beritahukanlah aku kapan terjadinya kiamat? Yang ringkas Rasulullah SAW jawab dengan ungkapan sederhana “yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya”. Sederhananya, Rasulullah SAW tidak mengetahui kapan terjadinya Kiamat. Rasulullah SAW hanya menyampaikan beberapa tanda-tanda, yang tentu tanda-tanda ini juga atas bimbingan Allah SWT. Poin-nya disini, bahkan Rasulillah SAW saja, pernah menghadapi rasa “tidak tahu”, terlepas memang domain hari akhir adalah hak-nya Allah SWT, tetapi perlu kita lihat dari sini, bahwa sejatinya.

 

“Jika sesuatu yang kita tidak tahu, belum tahun tentang ilmunya, atau belum ada orang yang tahu ilmu-nya lalu memerintahkan/menyarankan kita untuk berbuat sesuatu”

Kita boleh loh, dan bahkan dianjurkan untuk berkata “saya tidak tahu”.

 

KONTEKS ILMU

Dalam agama Islam, ilmu dianggap sebagai sebuah berkat, diberikan kepada manusia setelah manusia berusaha untuk memperolehnya. Pun setelah diperoleh, ilmu yang dimiliki oleh manusia tidak akan sebanding dengan Ilmu yang dimiliki Allah SWT. Karena ilmu yang diberikan kepada manusia, paling hanya setetes, dibandingkan dengan luasnya samudera. Inilah konteks ilmu dalam islam, yang jika disederhanakan, memang manusia tidak akan bisa tahu segalanya, karena sederhana, memang bukan disitu peran manusia.

 

Inilah kenapa Ketika kita melihat struktur masyarakat, seperti yang disampaikan oleh Ibnu Khaldun, masyarakat terdiri dari simpul-simpul pengetahuan, interaksi antar mereka inilah yang menghasilkan sebuah keteraturan, dan membagi peran dalam masyarakat. Allah SWT menjelaskan ini terlebih dahulu dalam surat Al-Hujurat, yang manusia memang dibuat bermacam-macam untuk saling mengenal.

 

Konstruksi masyarakat yang didasarkan pada interaksi antar pengetahuan yang dimiliki anggotanya sudah mengisyaratkan bahwa tidak mungkin ada yang “maha tahu” dalam sebuah struktur masyarakat. Sepintar-pintarnya ilmuwan yang kita kenal, sangat bisa dipastikan diluar sana ada yang lebih pintar darinya. Kalaupun tidak sezaman, era sebelumnya pasti pernah menghasilkan seseorang yang lebih luar biasa dibandingkan dengan yang kita tahu. Pun Ketika berbicara proyeksi masa depan.

 

Analogi yang menarik adalah saat Ford pertama kali membuat mobil Ford model T, yang mana merupakan komoditas pendobrak di zaman itu. Namun bisa dipastikan saat Ford dihadapkan pada masalah turun mesin mobil-mobil modern, dia mungkin tidak akan sepintar montir-montir yang kita kenal. Inilah kenapa tidak ada manusia yang serba tahu, karena tadi, ilmu terus berkembang, ilmu itu berinteraksi, ilmu pun juga merupakan berkah. Karena baik ilmu pengetahun, waktu dan takdir, kesemuanya ini adalah domain Allah SWT.

 

Dengan memahami konteks ilmu semacam ini, tidak heran orang-orang bijaksana terdahulu pernah membuat perumpanaan “padi”. Ketika orang semakin tahu dia seharusnya semakin merunduk, karena seiring dengan tumbuhnya ilmu, orang akan dihadapkan pada fakta bahwa apa yang dia pelajari berasal dari kerangka dan pengembangan ilmu yang dilakukan oleh pendahulu-pendahulunya. Saat dia mengaplikasikan ilmu nya, saat itu dia akan bertemu dengan orang-orang luar biasa yang berada dalam bracket keilmuan yang sama. Kemudian Ketika ditelaah dan dilihat proyeksi pengembangan sebuah ilmu pengetahuan, dia akan semakin mawas diri karena dia sadar betul di masa depan aka nada mereka-mereka yang terus mengembangkan dan jelas lebih maju dari apa yang bisa dia pikirkan saat ini.

 

Selama Allah SWT mengizinkan manusia untuk hidup, bumi untuk berputar dan waktu berjalan, selama itu ilmu yang kita miliki akan semakin obsolete, semakin usang. Maka sangat tepat sekali Ketika disampaikan bahwa menuntut ilmu itu dari lahir hingga ke liang lahat. Karena dalam waktu hidup kita yang sangat singkat saja, tidak terbantahkan ilmu it uterus dan akan terus berkembang.

 

Kalau begitu pertanyaannya, kenapa seolah kita dihadapkan pada kondisi “kita harus tahu semnua, kita tahu semua”? sederhana, manusia memiliki hawa nafsu.

 

SUSAHNYA BILANG TIDAK TAHU

Disini saya membahas orang yang benar-benar mau sok tahu, bukan orang yang pura-pura tidak tahu. Pura-pura tidak tahu bisa jadi adalah wujud kepengecutan, dalam satu sisi, di sisi lain dia adalah wujud kecerdikan. Dia bisa jaid merupakan wujud kerendahan hati, bisa jadi juga pura-pura tidak tahu menjadi bentuk paling final dari penghinaan. Tetapi kalau memang sok tahu, wuih, jangankan urusan remen, wong kadang orang-orang sok tahu ini bisa kok mengklaim urusan hati orang lain. Mungkin mereka sudah dikaruniai mata ke-tiga kali ya, kayak di komik One Piece.

 

Orang sebenarnya tidak menuntut kita untuk tahu semuanya. Dalam Pendidikan formal yang sering kita anggap kaku sekalipun KKM tidak pernah diletakkan di angka kesempurnaan. Ngga ada kan KKM dengan nilai 100. Tetapi masalahnya, sudah dasarnya manusia untuk suka jika lebih unggul dari manusia lain. Di kampus ngga ada system ranking, tetap saja IPK/GPA dipamer-pamerkan, dibesar-besarkan. Saya sendiri termasuk punya IPK lumayan lah, 3.89, namun demikian masih ada temen sekelas dengan IPK 3.87 yang menyangka saya kuliah habis untuk belajar saja.

 

Padahal sebelum ujian saya paling suka nongkrong di Indomaret.

 

Karena ini wajar jika manusia ingin tahu banyak. Tidak hanya banyak, mungkin manusia juga ingin tahu semuanya. Saya sendiri pernah menjadi orang sok tahu. Saat sedang membahas sebuah teknologi, system operasi baru dalam dunia mobile phone, saya lupa nama aplikasi yang saya maksud. Teman saya kemudian menyebutkan adobe acrobat reader, kemudian jawaban itu saya iyakan. Jelas seluruh forum tertawa, karena kita sedang membicarakan aplikasi hacking, bukan aplikasi pembaca file di laptop.

 

Itulah orang sok tahu, sangat sering sebenarnya orang sok tahu ini kena batunya. Karena tadi, keluar sedikit saja dari zona nya dia, dia akan menyaksikan orang-orang yang betulah tahu atas sebuah ilmu, yang dia paling hanya sok tahu saja. Akhirnya? Seringkali mempermalukan sendiri didepan forum. Tujuannya ingin menguasai forum, menggiring pendapat khalayak meskipun argumentasi yang dibangun sangat lemah, bahkan cenderung mendiskreditkan orang banyak. Akhirnya malu sendiri, saat akhrinya dibentukan pada realitas.

 

Seorang pedagang air minum pernah mengatakan didepan forum bahwa air minum yang dia jual itu terbaik sejagat raya. Bahkan menantang orang-orang untuk membawa air minum apapun untuk diadu. Padahal dalam kepercayaan ummat islam, ada Air Zam-zam yang merupakan rahmat Allah SWT untuk manusia di bumi ini. Bayangkan.

 

Tetapi kenapa orang-orang sok tahu ini, tidak mau berhenti?

 

NAFSU DAN GENGSI

Akan saya mulai bagian penutup dari tulisan ini dengan menceritakan konteks pertemuan Rasulullah SAW dengan Jibril AS dalam hadits arbain ke-dua tadi. Baik Jibril AS ataupun Nabi Muhammad SAW saling memperlakukan satu sama lain dengan terhormat. Pun saat Rasulullah SAW menjawab dengan ungkapan tadi. Karena sejatinya ilmu itu adalah milik Allah SWT, terutama ilmu-ilmu baik yang memberikan manfaat bagi orang banyak. Dengan landasan ini, tidak hanya ilmu berhasil disampaikan dengan sempurna, para sahabat yang menyaksikan saat itu mendapatkan hikmah luar biasa. Terbentuklah sebuah sinergi transfer ilmu yang sejati, tidak hanya ilmu saja, namun juga tahap, cara dan adab untuk memperoleh ilmu tersebut.

 

Maka bisa dikatakan kalau ada orang yang sudah kecentok karena sok tahu dan kedangkalan ilmunya, namun dia tidak mau berhenti. Bahkan terus menerus mencecar orang lain yang mungkin tidak sepakat dengannya, maka bisa dipastikan, itu bukan akhlak, bukan cara, bukan ada, dan bukan tahap dalam mencari ilmu. Itu murni usaha saja untuk memuaskan gengsi nya, memuaskan nafsunya. Berlindung dalam ilusi palsu bahwa dia tahu semuanya, padahal tidak. Bisa jadi diapun tidak tahu apa=apa.

 

Dan apa yang paling menyakitkan bagi seorang penuntut ilmu? Saat seorang guru, seorang kyai, ustadz, tidak mau lagi kita mengambil ilmu darinya, bukan karena kita dipandang layak untuk menggegam sebuah ilmu, bukan. Karena dalam diri kita, jauh didalamnya, ilmu itu dipegang oleh nafsu kita.

 

Saya sendiri? Waduh soal ilmu saya mah apa. Anda berhak untuk tidak setuju dengan tulisan ini. Tetapi saya bersyukur kalau lewat tulisan ini, Bersama kita bisa memperbaiki diri, menjadi lebih baik lagi.

 

Karena hanya Allah SWT yang lebih tahu.

Wallahu ‘Alam.


Muhammad Abdullah 'Azzam, M.M. 


Lulusan program Magister Manajemen Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Alumni penerima manfaat beasiswa baktinusa angkatan 6.
Email: skripsiazzam@gmail.com


Untuk tulisan lain, silahkan kunjungi pranala dibawah ini: 

Mampir di Kompasiana
follow me on insta @Azzam_Abdul4 
Thanks for your support!

Follow dan Komen untuk artikel-artikel menarik lainya

No comments:

Post a Comment