Gerai Inspirasi

ekonomika politika romantika

LightBlog
Responsive Ads Here

Tuesday, April 6, 2021

Hitam dan Putih: Ramadhan dan Realita Kemasyarakatan

 

Sumber gambar: https://newsmaker.tribunnews.com/2021/02/28/jadwal-mulainya-puasa-ramadhan-2021-ini-menurut-muhammadiyah-berdasarkan-perhitungan-hisab

 

 Hitam dan Putih: Ramadhan dan Realita Kemasyarakatan

 

Oleh: Muhammad Abdullah ‘Azzam, SM

 

Sudah H-6, atau 6 hari lagi ummat islam seluruh dunia akan sampai kepada Bulan Ramadhan. Doa dan harap senantiasa terucap agar masing-masing muslim dan muslimat, diberikan sehat dan kecukupan umur agar dapat bertemu dengan Ramadhan lagi. Bagaimana tidak? Ajaran islam menyampaikan tentang istimewanya bulan tersebut, mulai dari dilipatgandakan imbalan daripada amal sholih, hingga keutamaan-keutamaan dari hari dan malamnya. Tentu, termasuk kewajiban berpuasa sebulan penuh, yang tidak ada perintah ibadah semacam ini di bulan-bulan lain.

 

Bulan Ramadhan adalah bulan istimewa, pernyataan ini tidak terbantahkan. Selain daripada aspek spiritual, ternyata aspek social dan ekonomi juga turut bergeliat, sebelum, saat dan setelah bulan ini. Selalu mudah ditemukan dermawan saat Bulan Ramadhan, dan mudah ditemukan pengusaha-pengusaha dadakan coba ambil momentum entah memulai bisnis atau sekedar meramaikan dan mengambil pundi-pundi ekonomi. Istimewa, karena disaat bersamaan mendadak orang ingin melakukan dan mengkonsumsi hal-hal istimewa.

 

Sehingga sangat kentara, saat Ramadhan tiba seolah kita saksikan masyarakat terlihat makmur sejahtera. Para dermawan membagi hartanya dan orang fakir dan miskin ter-ayomi, apalagi menjelang Idul Fitri ada amal wajib berupa zakat fitrah, dimana hasil dari zakat ini salah satunya digunakan untuk menjamin saat Ied tidak ada anak Adam yang kelaparan. Sebuah lagu klasik bisa menjadi argument, yang liriknya berbunyi:

Minal aidzin wal faidzin

Maafkan lahir dan bathin

Selamat para pemimpin

Rakyatnya makmur terjamin

Bayangkan, betapa luar biasanya rekonstruksi social-kemasyarakatan yang terjadi selama Bulan Ramadhan di Indonesia, hingga para pemimpin diselamati. Karena memang di hari itu, rakyat yang mereka pimpin makmur dan terjamin.

 

Inilah yang menjadi titik kritis menurut saya, mengapa sejatinya Ramadhan menjadi sebuah model percontohan dalam sebuah rekayasa social berskala besar, dengan dampak positif jangka panjang, dan resiko yang dapat dicegah dengan mitigasi resiko yang baik.

 

Titik krusial dari mengapa orang bisa lebih terjamin selama Bulan Ramadhan dan memperoleh penghidupan yang layak, secara teoritis adalah mudahnya “bantuan” mengalir kepada mereka yang membutuhkan. Saksikan saja sepanjang jalan, terutama sebelum era pandemic, akan lebih mudah bagi pengguna jalan menemukan makanan gratis jika dibandingkan dengan bulan-bulan diluar Ramadhan. Karena ada sebuah kesadaran kolektif bahwa bersedekah di bulan tersebut (Ramadhan) akan menghadirkan lebih banyak imbalan pahala dan sebagainya. Dengan motivasi ekstrinsik inilah akhirnya, orang berlomba untuk memperoleh kebaikan tersebut, terutama bagi mereka yang mampu, dan kondisi ini menghadirkan sebuah kondisi, banyak penjamin yang menjamin kehidupan orang lain.

 

Dari sini memang shodaqoh, infaq dan zakat, menjadi instrument yang unggul dalam memotivasi orang dan memastikan, ada “benefit” yang diperoleh orang lain atas harta yang dikumpulkan tersebut. Maka dari titik ini juga semangat sedekah, berinfaq dan berdonasi bisa menjadi poin yang sangat perlu dikuatkan bagi mereka-mereka yang memiliki harta berlebih. Karena memang dari titik ini, setidaknya urusan perut orang kebanyakan menjadi lebih “aman”, dan titik ktusial kedua, akan membuat infaq dan sedekah ini menjadi poin yang semakin penting, dalam memastikan arah perkembangan masyarakat yang semakin sejahtera dan makmur.

 

Titik krusial kedua bernada dengan banyak ditemukan penjual dadakan disaat Ramadhan, terutama sebelum pandemic. Tau apa yang luar biasa dari para penjual ini? Ya, mereka berdagang hampir setiap hari, terus menerus, yang berarti dagangan mereka bisa menghadrikan pendapatan dan penghasilan bagi mereka dan keluarganya. Selain dari kekuatan momen, yaitu Ramadhan sendiri, fakta ini menunjukkan bahwa sangat bisa sebuah bisnis berkembang, jika dia memiliki akses modal, akses pasar, dan diperkuat dengan akses momentum.

 

Titik krusial kedua ini kembali merujuk kepada sedekah, infaq dan donasi, namun yang berbeda, jika hal-hal ini dilakukan dengan menyasar kepentingan dan urusan produktif. Memang benar, orang berlomba menyalurkan sedekah selama Ramadhan karena benar janji Allah, bahwa di bulan ini amal ibadah akan dilipatgandakan pahalanya. Tetapi jika kita berhasil menyalurkan sebuah infaq, yang memastikan orang bisa beribadah, bisa menuntut ilmu apalagi bisa menghidupi keluarganya, maka bisa dibayangkan betapa mulianya amal tersebut.

Karena sejatinya amal ibadah, terutama infaq dan sedekah dalam bentuk apapun akan senantiasa membawa kebaikan bagi yang menjalankan. Karena secara dasar sedekah sendiri adalah amal yang bertumbuh, ganjaran bisa sampai 700 kali lipat dari yang dikeluarkan, baik di dunia maupun di akhirat. Maka dengan fakta, bahwa infaq-infaq musiman berupa takjil saja mampu membuat “para pemimpin” dianggap berhasil memakmurkan dan menjamin rakyatnya (menurut sebuah lagu) apalagi jika infaq dan sedekah ini dikelola dengan professional, berasaskan kejujuran dan keadilan? Umar bin Abdul Aziz menjadi bukti nyata dan hidup, dari keberhasilan fenomena semacam ini.

 

Titik krusial terakhir, dan sekaligus menjadi pelecut semangat, agar kita semua bisa mengambil peran dan menjadi contoh, adalah bahwa Allah menjamin, keberkahan daripada harta yang dizakati, disedekahkan dan diinfaq-kan. Ahli hikmah menyatakan bahwa rezeki yang kita konsumsi akan berakhir jadi sampah dan kotoran, rezeki yang kita simpan akan jadi akar pertikaian. Yang tidak akan memicu apapun kecuali kebaikan, adalah rezeki yang disedekahkan dengan cara yang ahsan dan sesuai syariat, dilandaskan pada nilai keikhlaskan dan ketulusan mengharap ridha Allah SWT.

 

Disini saya mencoba ingin membuat sebuah statement, bahwa sejatinya, jika orang-orang sudah mulai berzakat, mulai bersedekah, seharusnya ada wajah perubahan yang signifikan dalam unsur social-kemasyarakatan orang Indonesia. Namun, jika melihat bagaimana pandemic Covid-19 benar-benar menghancurkan fondasi ekonomi banyak ihsan, mungkin masih ada yang kurang tepat dalam sedekah, infaq dan zakat kita, karena entah kenapa kok keberkahan itu belum kumjung diturunkan.

 

Maka evaluasi pertama adalah kepada diri sendiri, diri masing-masing, kita yang berinfaq. Sudahb ikhlas-kah infaq kita? Adakah Riya’ disana? Adakah rasa ingin memperoleh pujian disana? Ada berapa banyak ridho Allah yang kita harapkan dalam infaq kita?. Pertanyaan-pertanyaan ini harus diulang dan terus diulang, agar Insya Allah kualitas infaq dan sedekah kita meningkat, menjadi semakin baik dan akhirnya menjadi picu datangnya keberkahan yang dinanti-nanti.

 

Lalu evaluasi kedua bisa jadi kepada diri kita yang lain yang memperoleh rezeki dari infaq orang lain. Bagaimana kita menggunakan bantuan tersebut? Apakah kita berhenti pada mengejar kebutuhan dunia semata? Ataukah dari bantuan itu kita investasikan balik agar keluarga, anak dan diri kita sendiri dapat lebih baik beribadah? Ataukah justru kita membeli maksiat dari uang bantuan tersebut?. Uang sedekah adalah sebuah rezeki yang langsung Allah beri, dari arah yang tidak disangka-sangka, lantas kalau cuman digunakan untuk berfoya-foya, mau datang darimana keberkahan itu?

 

Terakhir, sebuah evaluasi besar harus secara legowo dilakukan oleh mereka-mereka yang hidup, memperoleh penghidupan, dan bahkan kekayaan dari mengelola zakat, infaq dan sedekah. Apakah masih sampai hati memperkaya diri sendiri dari bantuan yang selayaknya diberikan kepada mereka yang berhak? Apakah masih sampai hati menggunakan uang zakat untuk hal-hal yang tidak semestinya? Apakah masih sampai hati menipu ummat dan para dermawan dengan ujung-ujungnya uang suci tersebut dipergunakan untuk hal-hal najis dan kotor, tidak ada sangkut pautnya untuk kesejahteraan dan mengangkat derajat mereka yang membutuhkan!

 

Apalagi ketika negara “menawarkan diri” untuk ikut mengelola zakat, infaq sedekah dan wakaf, disamping ribuan lembaga non pemerintah yang “turut membantu” penyaluran zakat, infaq, sedekah, dan wakaf orang banyak. Akan semakin berat pertanggungjawaban itu, akan semakin banyak pertanyaan-pertanyaan baik di dunia maupun di akhirat. Apalagi saat terang di tengah suasana genting pandemi, masih ada orang berkuasa mencuri dan mengkorupsi dana bantuan sosial untuk orang banyak.

 

Maka kiranya, sebelum meminta orang kebanyakan untuk lebih banyak infaq, lebih banyak sedekah, lebih banyak zakat, ada sebuah evaluasi mendalam mengenai system dan metode penghimpunan dan penyaluran uang-uang, harta-harta suci tersebut. Karena mau sebanyak apapun nilainya, kalau Allah cabut keberkahan darinya, maka jangan harap bisa terwujud namanya kesejahteraan dan kemakmuran.

 

Karena sungguh, Allah mengutuk mereka yang curang. Celakalah! Bagi mereka yang berbuat curang.

 

Selamat menjalankan ibadah puasa di Bulan Ramadhan

Wallahu ‘Alam

 

For further information contact me in felloloffee@gmail.com or skripsiazzam@gmail.com
Alumni Penerima Manfaat Beasiswa Aktifis Nusantara Dompet Dhuafa Angkatan 6

Untuk tulisan lain berkaitan dengan manajemen, silahkan kunjungi pranala dibawah ini
http://fellofello.blogspot.com/2021/03/yang-perlu-diingat-tidak-ada-yang-abadi.html

follow me on insta @Azzam_Abdul4 
Thanks for your support!
Follow dan Komen untuk artikel-artikel menarik lainya

No comments:

Post a Comment